Siang Bersama Kak Ina, dan Air Mata

Beliau bernama Ina (nama disamarkan, demi menjaga perasaan beliau). Terlahir 34 tahun yang lalu, di daerah Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Sejak dalam kandungan, beliau dianggap sebagai bayi pembawa sial oleh ayahnya. Karena semenjak dalam kandungan, qodaralloh beberapa hal buruk, khususnya dalam masalah pekerjaan, dialami oleh ayahnya.
Demikianlah akhirnya kak Ina tumbuh tanpa belai kasih sang ayah. Hingga beliaupun akhirnya diambil oleh neneknya (dari pihak ibu) di Prembun, Kebumen, Jawa Tengah.

Flowers_Cry_Too_by_Healzo
Singkat cerita, selepas SMA kak Ina merantau ke kota gudeg, Jogjakarta. Ia sempat bekerja sebagai konsultan nutrisi, juga merintis usaha warung angkringan. Hingga suatu hari ibunya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, meninggal. Betapa sedihnya hati kak Ina, yang sangat ingin membahagiakan ibunya sebelum beliau meninggal. Kak Ina pun harus menjadi tulang punggung keluarga, karena ayahnya sudah lama tidak mencarikan nafkah untuk keluarga mereka.
Cobaan kedua datang, ketika tiba-tiba adik kak Ina mengalami sakit tekanan jiwa. Kak Ina pun harus melepas usahanya di Jogja, dan merawat serta mencari ikhtiar kesembuhan untuk adiknya tercinta.
Tahun 2007, kak Ina menemukan belahan jiwanya. Kak Unang, yang lebih muda 7 tahun darinya. Mereka akhirnya menikah, setelah 3 bulan bersama tetua desa berusaha meluluhkan hati ayah kak Ina agar mau menjadi wali nikah mereka. Setelah menikah, suami kak Ina mulai merasa tertekan dengan sikap ayah mertuanya yang tak bersahabat. Mereka pun akhirnya tinggal di Kebumen. Mereka dianugerahi seorang putra yang diberi nama Hanif. Kak Ina pun memulai bisnisnya untuk membantu suaminya mencari nafkah. Ia memanfaatkan KUR BRI sebagai modal. Waktu itu, kak Ina mungkin belum mengetahui bila modal usaha dari harta yang mengandung riba bisa menjadikan harta jauh dari berkah.
Tahun 2009, suami kak Ina ingin mencari nafkah yang lebih mencukupi, dan pergi ke Mertoyudan, Magelang, tempat orangtuanya. Saat itu komunikasi di antara mereka tetap terjaga dengan baik.
Setelah beberapa waktu, memasuki tahun 2011, komunikasi antara kak Ina dan suaminya mulai jarang. Setiap kak Ina SMS menanyakan kabar, yang membalas justru mertuanya dengan kata-kata pedas.
Ina pun mulai menyadari, mungkin terjadi sesuatu pada diri suaminya. Mertuanya sangat murka dan bersikap buruk kepadanya. Memang di antara ayah kandungnya dan ayah mertuanya, dahulu pada masa mudanya pernah terjadi konflik. Dan konflik yang menyisakan dendam di hati ayah mertuanya itu kini diungkit-ungkit, sehingga masalah menjadi runyam.
Kak Ina pun berusaha mengutus seseorang untuk melihat kondisi suaminya. Ternyata suaminya sedang mengalami tekanan jiwa (stres) yang cukup parah. Sehari-hari ia hanya melamun dan merokok, namun masih ingat dan menjalankan shalat 5 waktu.
Puncaknya, pada 7 Desember 2011, kak Ina mendapat telpon dari adik iparnya, bila suaminya telah pergi dari rumah. Sejak itu suaminya bagai lenyap ditelan bumi. Kak Ina sudah berusaha mencarinya namun hasilnya tetap nihil. Sampai sekarang.
Tinggallah kak Ina berjuang sendiri mencari nafkah untuknya dan buah hatinya. Neneknya membujuknya untuk mengurus perceraian resmi dengan suaminya, namun kak Ina tetap bertahan. Hatinya masih tertambat pada ayah Hanif. Hingga keluarga neneknya mengultimatum kak Ina, kalau tak mau bercerai dengan kak Unang yang sudah tak diketahui lagi nasibnya, mereka tidak akan mempedulikan kak Ina. Saat itu memang ada beberapa orang yang berniat melamar kak Ina. Namun semuanya ditolak dengan halus.
Sikap kak Ina yang masih setia pada kak Unang, membuat keluarga neneknya menyalahkan dan memojokkan kak Ina, hingga kak Ina merasa harus pergi dari rumah neneknya di Kebumen.
Kak Ina pergi membawa anak semata wayangnya, melangkahkan kaki ke sana kemari untuk mencari pekerjaan. Ia berkeliling hingga Kutoarjo untuk mencari pekerjaan yang membolehkan tetap sambil membawa anak. Ketika kakinya telah lelah, beliaupun berhenti di lapangan (alun-alun) dan menumpahkan kesedihannya di sana. Beliau  menangis, sementara putranya tak mengerti masalah apa yang sedang dihadapi sang bunda.
Tangis kak Ina membuat iba salah seorang bapak-bapak yang melihatnya. Orang tersebut menanyakan masalah kak Ina, dan kemudian mengantarkannya ke sebuah yayasan yang mungkin bisa menerima kak Ina.
Kak Ina berhasil diterima di Sekolah Anak berstandar internasional, milik yayasan MI, sebuah yayasan nasrani di sana. Awalnya kak Ina dipekerjakan sebagai asisten guru, kemudian bagian gizi dapur. Sekitar 4 bulan kak Ina bekerja di tempat itu, menjadikannya kenal dengan beberapa orang Nasrani pengurus yayasan tersebut.
Kak Ina mengalami sakit selama beberapa bulan, hingga ia berhenti dari tempat kerjanya. Namun teman-temannya mendorongnya agar bangkit.  Beliau pun berusaha sekuat tenaga untuk kembali sehat dan terus bersemangat mengais rezeki demi putranya.
Pada akhirnya beliau kembali ke Blondo, Magelang, rumah ayahnya. Hingga kini, beliau berusaha menjadi anak yang berbakti, walaupun tak pernah melihat ayahnya bersikap baik pada beliau dan Hanif. Ia pun menanggung nafkah dirinya, anaknya, juga ayahnya.
Untuk memenuhi kebutuhannya, kak Ina menjalankan beberapa bisnis. Namun qodarullah, dalam 1 tahun ini, kak Ina mengalami kerugian. Kerugian yang disebabkan karena ia sering ditipu orang, yang sebagian besar adalah teman-teman beliau sendiri.
Beberapa di antara usahanya yang gagal dan membuatnya makin terpuruk:
1. Bisnis keripik kimpul.
Beliau selama ini telah lancar memasarkan kripik buatan mbak A, seorang produsen di Blondo, yang juga tetangganya. Kak Ina menjadi supliyer mbak S, pedagang besar di Kebumen yang sudah sangat mempercayainya.
Hingga suatu ketika, mbak S memesan keripik senilai 4 juta, cash. Kak Ina segera membayarkan uang itu pada produsen keripik.
Setelah dikemas, karena sudah percaya, kak Ina hanya mengecek sebagian kecil dari keripik yang akan dikirim. Dan setelah barang dikirim, betapa terkejutnya mbak S, ternyata keripiknya sangat rendah kualitasnya. Banyak yang remuk dan sangat berminyak. Mbak S sangat marah pada kak Ina, dan mengembalikan keripik-keripik tersebut kepadanya. Mbak S ingin  kakIna mengembalikan uangnya yang 4 juta. Namun apa mau dikata, uang itu sudah diserahkan pada sang produsen, dan tidak boleh diminta kembali.
Kak Ina telah dikhianati oleh sang produsen keripik, yang mengirimkan barang tak layak jual. Hubungan persahabatannya dengan mbak S pun hancur sudah karena masalah ini. Mbak S tak lagi menaruh kepercayaan padanya.
2. Bisnis MLM
Ina diajak dan dirayu temannya untuk ikut bisnis MLM dengan produk pembalut herbal dan nutrisi. Akhirnya beliau pun ikut. Ketika ada promo murah, lagi-lagi teman kak Ina merayunya agar mau kulakan yang banyak mumpung murah. Kak Ina tidak punya modal, namun temannya menawarkan pinjaman senilai 3 juta.
Setelah  kakIna memesan barang, tiba-tiba temannya itu mengatakan bila anaknya sedang bermasalah dan ia membutuhkan uang, dan uang yang dipinjamkan oleh kak Ina kembali diminta. Kak Ina pun terpaksa mengembalikan uang itu.
Beliau meminjam uang temannya yang lain (Mbak Is) untuk membayari produk yang terlanjur dipesannya. Temannya itu mau meminjamkan dengan syarat kelak kak Ina memberinya keuntungan separuh dari yang dipinjamkan. Jadi pinjam 3 juta, nanti harus dikembalikan 4,5 juta.
Dalam bisnis MLM ini, mbak S yang disebut pada no 1, dahulu sebelum ada masalah dengan kak Ina, telah menanam modal pada kak Ina senilai 2,5 juta, dan itu pun belum bisa dikembalikan.
Dalam bisnis MLM ini,  kakIna telah bekerja keras. Namun terkadang ia merasa terzhalimi. Terkadang hasil jerih payahnya justru diberikan pada pihak lain.
Saat ini ia tidak lagi ikut menjadi bagian dari sistem MLM, namun masih tetap menjualkan produknya dengan mengambil barang dari orang lain. Jadi utang kak Ina dalam bisnis ini 7 juta.
3. Bisnis makanan (gudeg, bubur, jenang gelasan dan aneka makanan/snek)
Kak Ina yang pandai memasak menggunakan keahliannya untuk jualan makanan. Namun usahanya ini terkendala, karena tiba-tiba “disaingi” oleh familinya sendiri, yang sebelumnya minta resep masakan pada  kak Ina.
Selain itu, beberapa orang yang sama-sama pedagang di sekitar tempat Ina mangkal, membujuknya untuk mencari penglaris agar dagangannya laris. Namun kak Ina tak menggubris. Anehnya, akhir-akhir ini di tempatnya jualannya sering terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan, dan dagangannya menjadi tak laku.
4. Jasa cek kesehatan keliling
Dengan modal 2 alat cek kesehatan,  kak Ina berusaha menjual jasa check-up kesehatan, seperti cek tensi, kolesterol, gula darah dan sebagainya. Usaha ini sebetulnya sudah bisa diandalkan. Namun, untuk menjangkau kantor-kantor dan pasar-pasar, kak Ina harus mengeluarkan biaya transportasi yang lumayan, karena ia tak punya motor dan hanya mengandalkan angkutan umum.
Usaha ini sekarang terkendala, karena kak Ina terkena penyakit penyumbatan pembuluh darah di kakinya. Kakinya terasa sakit bila berjalan cukup jauh. Shalat pun kadang ingin dilakukannya dengan duduk.

Nulung Kepenthung*
Kak Ina juga pernah ditipu oleh seseorang yang ditolongnya. Orang itu menantu tetangganya, sempat menginap semalam di rumah kak Ina, dan mengeluh macam-macam, hingga ujung-ujungnya pinjam uang. Ina yang jiwa sosialnya tinggi dan gak tegaan, meminjamkan uang modal usahanya yang tinggal 400 ribu, dengan modal kepercayaan, bahwa wanita itu berjanji akan mengembalikannya dalam 2 hari. Namun, begitu pergi orang itu menjadi sulit dihubungi, dan tak pernah mengembalikan uangnya. Padahal uang tersebut adalah modal usahanya.

Sering Dilecehkan dan Akan Dibeli Akidahnya dan Anaknya
– Akibat beberapa usahanya tidak lancar, dan beberapa waktu lalu anaknya mengalami sakit (demam) selama dua minggu, kak Ina pun bangkrut. Di kampungnya, ia sering dihina dan dilecehkan karena dianggap miskin dan banyak masalah. Tak ada tetangga yang menjenguk saat anaknya sakit 2 minggu itu. Tak ada tetangganya yang mau memberinya pinjaman ketika ia membutuhkan. Bahkan sekedar meminjam kas kampung senilai 50 ribu pun tak diberi. Padahal orang lain meminjam 300 ribu dikasih.
– Kak Ina sering ditagih dan dicaci maki oleh 2 orang yang memiliki piutang padanya, yaitu Mbak S dan Mbak Is. Karena tertekan, kakIna akhirnya ganti nomor HP, namun ia tetap memiliki niat untuk mengembalikan utang-utangnya bila ia diberi kemampuan oleh Allah.
– Suatu ketika ia bermaksud meminjam uang pada salah seorang temannya yang tabungannya lumayan. Temannya yang belum memiliki anak itu justru berkata, “Kamu boleh ambil seluruh tabunganku, 60 juta, tapi serahkan anakmu padaku.” Betapa perih hati kak Ina mendengarnya. Bagaimanapun ia tak akan menjual anaknya, harta paling berharga yang ia miliki.
Karena tak mendapatkan pinjaman dari tetangga dan teman-temannya, disaat kepepet kebutuhan akhirnya beliau terjerat rentenir, 1 juta (karena itu minimal pinjaman yang diberikan).
– Belum lama, ia bertemu dengan seorang Nasrani yang dikenalnya dahulu saat masih di yayasan MI. Orang itu menawarkan padanya, “Biar kulunasi semua utangmu, dan kubiayai anakmu hingga kuliah, asal kamu mau ikut agamaku.”
– Ia juga didatangi seorang dukun, yang menawarkan padanya jin yang bila dimasukkan ke dalam tubuhnya, konon akan membuatnya kaya raya dengan cepat.
Namun alhamdulillah, Allah masih meneguhkan hati kak Ina untuk menolak semua itu. Ina telah menolak sesuatu yang haram, yang menggoda hatinya padahal ia sangat membutuhkan. Mudah-mudahan Allah membantunya untuk mendapatkan gantinya yang halal lagi berkah. Ina mengaku, saat ini ia hampir putus asa dengan kondisinya, yang memiliki total utang 11 jutaan, bahkan lebih. Jangankan bantuan, sekedar diberi pinjaman lunak untuk menutup semua hutangnya pun, ia sudah sangat bersyukur…
Di rumah saya, Beliau mengisahkan lika-liku hidupnya dengan linangan air mata.
Kini, tak malukah kita pada Allah, bila sebagai sesama muslim, kita tak berbuat apa pun untuk membantu saudari kita kak Ina dari himpitan masalahnya?

Jika tidak atau belum mungkin membantu, setidaknya mari sertakan mereka dalam doa-doa tulus kita. Jangan kita relakan Nasrani itu membeli akidah saudara kita dan anaknya, selamanya.
Gulon Salam Magelang, 25 November 2014 pk. 00.02
Ditulis oleh Ummu Aslam, dari penuturan Mbak Ina siang tadi.

Catatan:

~ Tulisan ini disadur dari blog sinergipagi

~ Semua nama sudah disamarkan

~ * Nulung kepenthung : idiom Jawa, maknanya berniat menolong, namun malah dibalas dikibuli atau dicelakakan oleh yang ditolong

Categories: Beranda, Uncategorized | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Sekitar Kita

Siang Bersama Kak Ina, dan Air Mata

Beliau bernama Ina (nama disamarkan, demi menjaga perasaan beliau). Terlahir 34 tahun yang lalu, di daerah Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Sejak dalam kandungan, beliau dianggap sebagai bayi pembawa sial oleh ayahnya. Karena semenjak dalam kandungan, qodaralloh beberapa hal buruk, khususnya dalam masalah pekerjaan, dialami oleh ayahnya.
Demikianlah akhirnya kak Ina tumbuh tanpa belai kasih sang ayah. Hingga beliaupun akhirnya diambil oleh neneknya (dari pihak ibu) di Prembun, Kebumen, Jawa Tengah.

Flowers_Cry_Too_by_Healzo
Singkat cerita, selepas SMA kak Ina merantau ke kota gudeg, Jogjakarta. Ia sempat bekerja sebagai konsultan nutrisi, juga merintis usaha warung angkringan. Hingga suatu hari ibunya yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, meninggal. Betapa sedihnya hati kak Ina, yang sangat ingin membahagiakan ibunya sebelum beliau meninggal. Kak Ina pun harus menjadi tulang punggung keluarga, karena ayahnya sudah lama tidak mencarikan nafkah untuk keluarga mereka.
Cobaan kedua datang, ketika tiba-tiba adik kak Ina mengalami sakit tekanan jiwa. Kak Ina pun harus melepas usahanya di Jogja, dan merawat serta mencari ikhtiar kesembuhan untuk adiknya tercinta.
Tahun 2007, kak Ina menemukan belahan jiwanya. Kak Unang, yang lebih muda 7 tahun darinya. Mereka akhirnya menikah, setelah 3 bulan bersama tetua desa berusaha meluluhkan hati ayah kak Ina agar mau menjadi wali nikah mereka. Setelah menikah, suami kak Ina mulai merasa tertekan dengan sikap ayah mertuanya yang tak bersahabat. Mereka pun akhirnya tinggal di Kebumen. Mereka dianugerahi seorang putra yang diberi nama Hanif. Kak Ina pun memulai bisnisnya untuk membantu suaminya mencari nafkah. Ia memanfaatkan KUR BRI sebagai modal. Waktu itu, kak Ina mungkin belum mengetahui bila modal usaha dari harta yang mengandung riba bisa menjadikan harta jauh dari berkah.
Tahun 2009, suami kak Ina ingin mencari nafkah yang lebih mencukupi, dan pergi ke Mertoyudan, Magelang, tempat orangtuanya. Saat itu komunikasi di antara mereka tetap terjaga dengan baik.
Setelah beberapa waktu, memasuki tahun 2011, komunikasi antara kak Ina dan suaminya mulai jarang. Setiap kak Ina SMS menanyakan kabar, yang membalas justru mertuanya dengan kata-kata pedas.
Ina pun mulai menyadari, mungkin terjadi sesuatu pada diri suaminya. Mertuanya sangat murka dan bersikap buruk kepadanya. Memang di antara ayah kandungnya dan ayah mertuanya, dahulu pada masa mudanya pernah terjadi konflik. Dan konflik yang menyisakan dendam di hati ayah mertuanya itu kini diungkit-ungkit, sehingga masalah menjadi runyam.
Kak Ina pun berusaha mengutus seseorang untuk melihat kondisi suaminya. Ternyata suaminya sedang mengalami tekanan jiwa (stres) yang cukup parah. Sehari-hari ia hanya melamun dan merokok, namun masih ingat dan menjalankan shalat 5 waktu.
Puncaknya, pada 7 Desember 2011, kak Ina mendapat telpon dari adik iparnya, bila suaminya telah pergi dari rumah. Sejak itu suaminya bagai lenyap ditelan bumi. Kak Ina sudah berusaha mencarinya namun hasilnya tetap nihil. Sampai sekarang.
Tinggallah kak Ina berjuang sendiri mencari nafkah untuknya dan buah hatinya. Neneknya membujuknya untuk mengurus perceraian resmi dengan suaminya, namun kak Ina tetap bertahan. Hatinya masih tertambat pada ayah Hanif. Hingga keluarga neneknya mengultimatum kak Ina, kalau tak mau bercerai dengan kak Unang yang sudah tak diketahui lagi nasibnya, mereka tidak akan mempedulikan kak Ina. Saat itu memang ada beberapa orang yang berniat melamar kak Ina. Namun semuanya ditolak dengan halus.
Sikap kak Ina yang masih setia pada kak Unang, membuat keluarga neneknya menyalahkan dan memojokkan kak Ina, hingga kak Ina merasa harus pergi dari rumah neneknya di Kebumen.
Kak Ina pergi membawa anak semata wayangnya, melangkahkan kaki ke sana kemari untuk mencari pekerjaan. Ia berkeliling hingga Kutoarjo untuk mencari pekerjaan yang membolehkan tetap sambil membawa anak. Ketika kakinya telah lelah, beliaupun berhenti di lapangan (alun-alun) dan menumpahkan kesedihannya di sana. Beliau  menangis, sementara putranya tak mengerti masalah apa yang sedang dihadapi sang bunda.
Tangis kak Ina membuat iba salah seorang bapak-bapak yang melihatnya. Orang tersebut menanyakan masalah kak Ina, dan kemudian mengantarkannya ke sebuah yayasan yang mungkin bisa menerima kak Ina.
Kak Ina berhasil diterima di Sekolah Anak berstandar internasional, milik yayasan MI, sebuah yayasan nasrani di sana. Awalnya kak Ina dipekerjakan sebagai asisten guru, kemudian bagian gizi dapur. Sekitar 4 bulan kak Ina bekerja di tempat itu, menjadikannya kenal dengan beberapa orang Nasrani pengurus yayasan tersebut.
Kak Ina mengalami sakit selama beberapa bulan, hingga ia berhenti dari tempat kerjanya. Namun teman-temannya mendorongnya agar bangkit.  Beliau pun berusaha sekuat tenaga untuk kembali sehat dan terus bersemangat mengais rezeki demi putranya.
Pada akhirnya beliau kembali ke Blondo, Magelang, rumah ayahnya. Hingga kini, beliau berusaha menjadi anak yang berbakti, walaupun tak pernah melihat ayahnya bersikap baik pada beliau dan Hanif. Ia pun menanggung nafkah dirinya, anaknya, juga ayahnya.
Untuk memenuhi kebutuhannya, kak Ina menjalankan beberapa bisnis. Namun qodarullah, dalam 1 tahun ini, kak Ina mengalami kerugian. Kerugian yang disebabkan karena ia sering ditipu orang, yang sebagian besar adalah teman-teman beliau sendiri.
Beberapa di antara usahanya yang gagal dan membuatnya makin terpuruk:
1. Bisnis keripik kimpul.
Beliau selama ini telah lancar memasarkan kripik buatan mbak A, seorang produsen di Blondo, yang juga tetangganya. Kak Ina menjadi supliyer mbak S, pedagang besar di Kebumen yang sudah sangat mempercayainya.
Hingga suatu ketika, mbak S memesan keripik senilai 4 juta, cash. Kak Ina segera membayarkan uang itu pada produsen keripik.
Setelah dikemas, karena sudah percaya, kak Ina hanya mengecek sebagian kecil dari keripik yang akan dikirim. Dan setelah barang dikirim, betapa terkejutnya mbak S, ternyata keripiknya sangat rendah kualitasnya. Banyak yang remuk dan sangat berminyak. Mbak S sangat marah pada kak Ina, dan mengembalikan keripik-keripik tersebut kepadanya. Mbak S ingin  kakIna mengembalikan uangnya yang 4 juta. Namun apa mau dikata, uang itu sudah diserahkan pada sang produsen, dan tidak boleh diminta kembali.
Kak Ina telah dikhianati oleh sang produsen keripik, yang mengirimkan barang tak layak jual. Hubungan persahabatannya dengan mbak S pun hancur sudah karena masalah ini. Mbak S tak lagi menaruh kepercayaan padanya.
2. Bisnis MLM
Ina diajak dan dirayu temannya untuk ikut bisnis MLM dengan produk pembalut herbal dan nutrisi. Akhirnya beliau pun ikut. Ketika ada promo murah, lagi-lagi teman kak Ina merayunya agar mau kulakan yang banyak mumpung murah. Kak Ina tidak punya modal, namun temannya menawarkan pinjaman senilai 3 juta.
Setelah  kakIna memesan barang, tiba-tiba temannya itu mengatakan bila anaknya sedang bermasalah dan ia membutuhkan uang, dan uang yang dipinjamkan oleh kak Ina kembali diminta. Kak Ina pun terpaksa mengembalikan uang itu.
Beliau meminjam uang temannya yang lain (Mbak Is) untuk membayari produk yang terlanjur dipesannya. Temannya itu mau meminjamkan dengan syarat kelak kak Ina memberinya keuntungan separuh dari yang dipinjamkan. Jadi pinjam 3 juta, nanti harus dikembalikan 4,5 juta.
Dalam bisnis MLM ini, mbak S yang disebut pada no 1, dahulu sebelum ada masalah dengan kak Ina, telah menanam modal pada kak Ina senilai 2,5 juta, dan itu pun belum bisa dikembalikan.
Dalam bisnis MLM ini,  kakIna telah bekerja keras. Namun terkadang ia merasa terzhalimi. Terkadang hasil jerih payahnya justru diberikan pada pihak lain.
Saat ini ia tidak lagi ikut menjadi bagian dari sistem MLM, namun masih tetap menjualkan produknya dengan mengambil barang dari orang lain. Jadi utang kak Ina dalam bisnis ini 7 juta.
3. Bisnis makanan (gudeg, bubur, jenang gelasan dan aneka makanan/snek)
Kak Ina yang pandai memasak menggunakan keahliannya untuk jualan makanan. Namun usahanya ini terkendala, karena tiba-tiba “disaingi” oleh familinya sendiri, yang sebelumnya minta resep masakan pada  kak Ina.
Selain itu, beberapa orang yang sama-sama pedagang di sekitar tempat Ina mangkal, membujuknya untuk mencari penglaris agar dagangannya laris. Namun kak Ina tak menggubris. Anehnya, akhir-akhir ini di tempatnya jualannya sering terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan, dan dagangannya menjadi tak laku.
4. Jasa cek kesehatan keliling
Dengan modal 2 alat cek kesehatan,  kak Ina berusaha menjual jasa check-up kesehatan, seperti cek tensi, kolesterol, gula darah dan sebagainya. Usaha ini sebetulnya sudah bisa diandalkan. Namun, untuk menjangkau kantor-kantor dan pasar-pasar, kak Ina harus mengeluarkan biaya transportasi yang lumayan, karena ia tak punya motor dan hanya mengandalkan angkutan umum.
Usaha ini sekarang terkendala, karena kak Ina terkena penyakit penyumbatan pembuluh darah di kakinya. Kakinya terasa sakit bila berjalan cukup jauh. Shalat pun kadang ingin dilakukannya dengan duduk.

Nulung Kepenthung*
Kak Ina juga pernah ditipu oleh seseorang yang ditolongnya. Orang itu menantu tetangganya, sempat menginap semalam di rumah kak Ina, dan mengeluh macam-macam, hingga ujung-ujungnya pinjam uang. Ina yang jiwa sosialnya tinggi dan gak tegaan, meminjamkan uang modal usahanya yang tinggal 400 ribu, dengan modal kepercayaan, bahwa wanita itu berjanji akan mengembalikannya dalam 2 hari. Namun, begitu pergi orang itu menjadi sulit dihubungi, dan tak pernah mengembalikan uangnya. Padahal uang tersebut adalah modal usahanya.

Sering Dilecehkan dan Akan Dibeli Akidahnya dan Anaknya
– Akibat beberapa usahanya tidak lancar, dan beberapa waktu lalu anaknya mengalami sakit (demam) selama dua minggu, kak Ina pun bangkrut. Di kampungnya, ia sering dihina dan dilecehkan karena dianggap miskin dan banyak masalah. Tak ada tetangga yang menjenguk saat anaknya sakit 2 minggu itu. Tak ada tetangganya yang mau memberinya pinjaman ketika ia membutuhkan. Bahkan sekedar meminjam kas kampung senilai 50 ribu pun tak diberi. Padahal orang lain meminjam 300 ribu dikasih.
– Kak Ina sering ditagih dan dicaci maki oleh 2 orang yang memiliki piutang padanya, yaitu Mbak S dan Mbak Is. Karena tertekan, kakIna akhirnya ganti nomor HP, namun ia tetap memiliki niat untuk mengembalikan utang-utangnya bila ia diberi kemampuan oleh Allah.
– Suatu ketika ia bermaksud meminjam uang pada salah seorang temannya yang tabungannya lumayan. Temannya yang belum memiliki anak itu justru berkata, “Kamu boleh ambil seluruh tabunganku, 60 juta, tapi serahkan anakmu padaku.” Betapa perih hati kak Ina mendengarnya. Bagaimanapun ia tak akan menjual anaknya, harta paling berharga yang ia miliki.
Karena tak mendapatkan pinjaman dari tetangga dan teman-temannya, disaat kepepet kebutuhan akhirnya beliau terjerat rentenir, 1 juta (karena itu minimal pinjaman yang diberikan).
– Belum lama, ia bertemu dengan seorang Nasrani yang dikenalnya dahulu saat masih di yayasan MI. Orang itu menawarkan padanya, “Biar kulunasi semua utangmu, dan kubiayai anakmu hingga kuliah, asal kamu mau ikut agamaku.”
– Ia juga didatangi seorang dukun, yang menawarkan padanya jin yang bila dimasukkan ke dalam tubuhnya, konon akan membuatnya kaya raya dengan cepat.
Namun alhamdulillah, Allah masih meneguhkan hati kak Ina untuk menolak semua itu. Ina telah menolak sesuatu yang haram, yang menggoda hatinya padahal ia sangat membutuhkan. Mudah-mudahan Allah membantunya untuk mendapatkan gantinya yang halal lagi berkah. Ina mengaku, saat ini ia hampir putus asa dengan kondisinya, yang memiliki total utang 11 jutaan, bahkan lebih. Jangankan bantuan, sekedar diberi pinjaman lunak untuk menutup semua hutangnya pun, ia sudah sangat bersyukur…
Di rumah saya, Beliau mengisahkan lika-liku hidupnya dengan linangan air mata.
Kini, tak malukah kita pada Allah, bila sebagai sesama muslim, kita tak berbuat apa pun untuk membantu saudari kita kak Ina dari himpitan masalahnya?

Jika tidak atau belum mungkin membantu, setidaknya mari sertakan mereka dalam doa-doa tulus kita. Jangan kita relakan Nasrani itu membeli akidah saudara kita dan anaknya, selamanya.
Gulon Salam Magelang, 25 November 2014 pk. 00.02
Ditulis oleh Ummu Aslam, dari penuturan Mbak Ina siang tadi.

Catatan:

~ Tulisan ini disadur dari blog sinergipagi

~ Semua nama sudah disamarkan

~ * Nulung kepenthung : idiom Jawa, maknanya berniat menolong, namun malah dibalas dikibuli atau dicelakakan oleh yang ditolong

Categories: Beranda, Uncategorized | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Kakak Beradik Itu, Mati di Rumahku

Beberapa bulan lalu, buna kedatangan beberapa kawan yang baru pulang dari ngalas (kebon, tegalan). Ada si Bagas, Erwan, dan lainnya. Mereka membawa sebuah sarang burung emprit/pipit, dan dikasihkan ke Buna. Di dalamnya, ada 3 anakan yang masih kecil dan lemah. Sebenarnya Buna tak ingin repot, tapi karena kasian pada anak-anak emprit itu, akhirnya Buna terima juga untuk dirawat.

Tiga emprit kecil itu, belum lengkap bulunya, apalagi yang terkecil, masih trondol/sangat jarang. Mereka juga belum bisa makan sendiri. Buna membayangkan, sungguh tega kawan-kawan Buna tadi, burung sekecil ini sudah diambil. Kebayang juga, bagaimana susahnya sang induk yang kehilangan sarang, sekaligus anak-anaknya.

Dengan niat menolong, Buna pelihara mereka. Dengan dibantu kawan Buna yang lain seperti Husna dan Fauzan, kami rawat dan kasih makan mereka dengan penuh kasih sayang. Jika malam, kami selimuti sarang mereka, agar tak kedinginan. Saat cuat cuit minta loloh (suap), kami langsung menyuapkan beras yang sudah dibasahi air, ke mulut mungil mereka. Sampai mereka kenyang dan tenang, tak cuat cuit lagi.

Subhanallah, beberapa hari dalam ‘asuhan’ kami, cepat sekali pertumbuhan mereka. Terutama si sulung, dia paling usil. Karena bulunya sudah hampir sempurna, sebentar-sebentar ia terbang keluar sarang, apalagi kalau melihat kami. Adik-adiknya juga tak mau kalah, suka ikut-ikutan loncat keluar.

Melihat perkembangan mereka, kami senang, terharu, sekaligus khawatir. Senang, karena mereka lucu,  jinak dan bisa diajak bermain. Terharu, melihat nasib mereka yang harus terpisah dari orangtuanya, dan harus hidup dengan kami. Khawatir, kalau-kalau saat terbang mereka salah arah dan masuk ke panci atau wajan, apalagi pas sedang dipakai memasak. Memang, karena baru latihan, mereka suka hinggap sekenanya. Kadang nabrak tembok, tak jarang juga, nyungsep di rak piring

Husna, Fauzan, Ismail dan Najma, kawan setia Buna, sangat sayang dengan trio emprit itu. Sambli nyuapin, empat bersaudara ini bermain dengan mereka. Lucu sekali, melihat burung-burung mungil itu bertengger di baju dan tangan.. Meski sudah dilepas, mereka tak mau pergi jauh. Seakan sudah betah di tempat kami.

Sahabat, tak selamanya yang kita harapkan, menjadi kenyataan. Niat kami memeliharanya sampai mandiri, untuk kemudian dilepas kembali, ternyata belum Allah ijinkan. Suatu hari, si emprit bungsu sakit. Kami rawat dan lakukan yang kami bisa untuk memulihkan kondisinya. Esok harinya, kami temui dia sudah tak bernyawa. Tubuhnya dingin dan kaku. Hal yang sama terjadi juga pada dua kakaknya, di hari setelahnya. Satu per satu mereka sakit dan mati, tanpa kami bisa berbuat apa-apa. Dengan sedih, kami kuburkan mereka di kebon dekat rumah.

Meski cuma burung ‘tak berharga’, bahkan oleh pak tani dianggap hama, tapi kehadiran mereka banyak meninggalkan pelajaran. Salah satunya, tersentilnya rasa kepedulian Buna, dan untuk tidak meremehkan kebaikan sekecil apapun, meski pada makhluk selemah mereka. Juga, tumbuhnya rasa syukur, bahwa ternyata, masih banyak orang atau makhluk lain, yang nasibnya tak lebih baik dari Buna. Tergambar pula, bagaimana maha adilnya Allah, yang telah menjamin rizqi seluruh makhluk-Nya. Walau sedih, kami hanya berharap, semoga perlakuan dan kasih sayang yang kami berikan pada mereka, bernilai pahala di sisi Allah. Sebagai manusia lemah, Buna sadar, banyak amal yang harus Buna kerjakan, banyak pahala yang musti Buna kumpulkan, untuk bisa meraih ridho-Nya. Siapa tahu, kehadiran mereka adalah salah satu sarananya.

Lihat, betapa jinaknya. Si Emprit sedang bermain bersama Fauzan

Categories: Kisah Indah | Tinggalkan komentar

Sisi Lain Air Hujan

Bismillah.

Jumpa lagi dengan Buna. Buna is back ….

Kita pasti sudah sangat akrab dengan hujan. Saking akrabnya, mungkin kita sampai merasa bahwa anugerah indah ini, adalah hal wajar dan biasa. Bahkan, sebagian kita mungkin akan mengeluhkan kehadirannya, saat hujan mengganggu acara kita (semoga kita tidak termasuk yang seperti ini ya). Nah, ternyata banyak fakta unik yang dimiliki oleh air hujan, yang mungkin selama ini tak pernah kita bayangkan. Mohon maaf jika tidak tercantum sumbernya, karena memang Buna mendapat artikel ini tanpa tercantum siapa penulisnya. Buna ucapkan terima kasih dan berdoa semoga bisa menjadi catatan amal baik bagi beliau/mereka.
1. Rata-rata kecepatan jatuhnya air hujan hanyalah 8-10 km/jam
2. Air jatuh ke bumi dengan kecepatan yang rendah karena titik hujan memiliki bentuk khusus yang meningkatkan efek gesekan atmosfer dan membantu hujan turun ke bumi dengan kecepat-an yang lebih rendah. Andaikan bentuk titik hujan berbeda, atau andaikan atmosfer tidak memiliki sifat gesekan (bayangkan jika hujan terjadi seperti gelembung air yang besar yang turun dari langit), bumi akan menghadapi kehancuran setiap turun hujan.
3. Ketinggian minimum awan hujan adalah 1.200 meter
4. Efek yang ditimbulkan oleh satu tetes air hujan yang jatuh dari ketinggian tersebut sama dengan benda seberat 1 kg yang jatuh dari ketinggian 15 cm
5. Awan hujan pun dapat ditemui pada ketinggian 10.000 meter
6. Dalam satu detik, kira-kira 16 juta ton air menguap dari bumi
7. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi dalam satu detik. Dalam satu tahun, diperkirakan jumlah ini akan mencapai 505×1012 ton. Air terus berputar dalam daur yang seimbang berdasarkan “takaran”.
8. Butiran air hujan berubah bentuk ratusan kali tiap detik
9. Kalau butiran air hujan itu dibekukan akan membentuk keping kristal yg indah, tidak seperti air biasa yang di bekukan di freezer/kul_kas.
10. Setelah hujan turun, tanah, ilalang, rerumputan akan mengeluarkan bau wangi yg khas, senyawa ini dinamakan ‘petrichor’.
11. Dan fakta terakhir yang paling misterius dan mengejutkan ilmuan. Hujan memiliki kemampuan untuk menghipnotis manusia untuk me-resonansi-kan ingatan masa lalu. Dan tanpa bisa mendapatkan bukti ilmiah, para ilmuan hanya bisa menyimpulkan “Di dalam hujan, ada lagu yang hanya bisa didengar oleh mereka yg rindu”.
Dan pada titik ini, para ilmuan meyakini bahwa manusia biasanya mendapatkan inspirasi

Apapun itu, air hujan adalah karunia dan rahmat dari Allah yang tak ternilai harganya. Wajib kita syukuri, nikmati dan manfaatkan untuk kebaikan, sebaik-baiknya. Jika suatu saat ada hujan yang ‘nakal’, seperti menyebabkan banjir, penyakit, masuk rumah dan sebagainya, percayalah, itu bukan salah hujannya, apalagi salah Allah yang menciptakannya. Tapi murni 1000% salah kita para manusia, yang tidak bisa menjaga, merawat dan menggunakan alam sesuai arahan sang Pencipta.

Contoh, buang sampah sembarangan yang membuat pendangkalan sungai, memampetkan saluran air, penggundulan hutan dan sebagainya.

Nah Sahabat, sudah tahu belum doa yang diajarkan Nabi saat hujan menyapa, membasahi bumi, dan menyejukkan hati-hati kita?

“Allohumma shoyyiban naafi’a”

Ya Allah, berilah hujan yang bermanfaat.

Wallohu a’lam bishowwab. Semoga bermanfaat

Categories: UNIK | Tinggalkan komentar

Pengobatan GRATIS Di Desa Lereng Merapi (Yogyakarta, 17 Maret 2013)

donasi kesehatan, donasi merapiInsya Allah pada Ahad, 17 Maret 2013 nanti, Tim Peduli Muslim akan mengadakan pelayanan kesehatan – pengobatan GRATIS di desa Lereng Gunung Merapi, tepatnya di dusun Tritis, Girikerto, Turi.

Dusun ini dipilih karena sangat minim dengan akses kesehatan (Puskemas terdekat berjarak 7 km), sinyal HP hampir tidak ada, dan cukup jauh dari keramaian manusia. Tempat yang akan dijadikan penyelenggaraan kegiatan ini adalah rumah Pak Parjo, tokoh masyarakat di dusun tersebut. Secara personal, beliau mengurus anak-anak yatim (26 orang), dan membuat pondokan untuk tempat tinggal mereka. Biaya yang dikeluarkan pak Parjo untuk memberi makan anak-anak yatim ini adalah Rp. 65.000 per hari (untuk 26 anak tersebut).

Pada tahun 1994, terjadi erupsi Merapi yang meluluhlantakkan dusun ini. Alhamdulillaah, erupsi tahun 2010 tidak berdampak separah yang terjadi tahun 1994. Pemerintah memberikan akses jalan beraspal sampai ke tempat ini sehingga memudahkan jalur evakuasi jika letusan merapi terjadi kembali. Meskipun demikian, akses kesehatan di tempat ini masih minim.

Berdasarkan hal tersebut, rekan-rekan dari Tim Peduli Muslim – Yayasan Pendidikan Islam Al-Atsari berinisiatif mengadakan program Layanan Kesehatan Gratis di tempat ini.

# Anggota Tim:

Penanggung jawab: Amrullah Akadhinta, S.T

Koordinator Umum: Ginanjar Indrajati

Koordinator Tim Medis: dr. Adika Mianoki

Anggota Tim Medis Putra:

  • dr. Adika Mianoki
  • dr. Muhaimin Ashuri
  • dr. Raehanul Bahraen
  • Abdiyat Sakrie, S.Ked
  • Rahadian Faisal, S.Ked
  • Nugraha Septian
  • Agung Panji W

Anggota Tim Medis Putri

  • dr. Tutik Pristiyanti
  • dr. Ika Kartika Sari
  • dr. Avie Andriyani
  • dr. Fitri Rachmayanti
  • Nafsa Muthmainna
  • Anita Rahmawati
  • Latifah Estriani
  • Elfian Yogi Fista
  • Maria Nova Nurfitri
  • Diah Ayu Kusuma Wardani
  • Nurkhasanah M
  • Nur Isnaini Mulyorini

(Tim medis merupakan gabungan dari para dokter dan mahasiswa-mahasiswi fakultas kedokteran, farmasi, gizi, dan keperawatan Universitas Gadjah Mada).

PJ Obat-obatan: Ronal Abu Ahmad, S.Farm, A.PT

===========
Anda yang ingin berpartisipasi dengan kami dalam kegiatan di Merapi ini (dan juga kegiatan-kegiatan kami yang lain) dalam hal donasi, dapat menyalurkan donasinya melalui rekening berikut:

  1. Bank Mandiri, Cabang Cilegon, no. rekening 163.0000.501.463 atas nama Muhammad Iqbal.
  2. Bank BNI Syariah Yogyakarta, no. rekening 0284.8124.96 atas nama Muhammad Oksa.

*) Untuk memudahkan pencatatan laporan keuangan, mohon setiap setelah mengirimkan donasi, agar menyampaikan konfirmasi via sms ke nomor +628.961.546.4449 (Muhammad Iqbal).

Dari artikel ‘Pengobatan GRATIS Di Desa Lereng Gunung Merapi (Yogyakarta, 17 Maret 2013) — Muslim.Or.Id

Categories: Kabar Bagus | Tinggalkan komentar

DOWNLOAD & PRINT BUNA EDISI TERBARU

Alhamdulillah, telah terbit Buna edisi terbaru (Shafar 1434/Januari 2013). Bagi yang tidak kebagian edisi cetak, silakan download, lalu print sendiri ya. Semoga Allah selalu memudahkan dan memberkahi langkah kita semua, amin.

 

buna 4 belakangbuna 4depan

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Di sini kita pilih-pilih makanan, muslim Suriah rela mati demi sepotong roti

Buna tak pernah jemu mengajak para sahabat semua, untuk selalu bersyukur pada segala nikmat dan kemudahan yang kita dapat. Terkadang, banyak karunia yang  sepele dan biasa di mata kita, namun sangat berharga dan didambakan banyak saudara kita di belahan bumi lain. Bahkan tak jarang, mereka harus bersusah payah, berdarah-darah dan kehilangan nyawa, demi mendapatkannya. Sebagaimana yang terjadi di negeri Suriah, yang sedang dilanda perang hebat antara saudara muslim kita, dengan kelompok agama Syiah. Setelah 22 bulan berkecamuk perang, kondisi kemanusiaan di sana sangat buruk. Terlebih setelah orang-orang Syiah yang zalim mengancurkan pabrik-pabrik pembuatan roti dan membunuhi ratusan syuhada.

Simak kisahnya baik-baik, dan semoga kita mau memetik hikmahnya …

Kisah itu berbicara:

Seorang ayah bangun untuk shalat subuh. Dia berwudhu lalu melihat kepada anak-anaknya dengan pandangan sayang dan iba. Dia bergumam sendiri, seandainya bukan karena mereka niscaya ia tidak akan melakukan operasi seperti ini, yaitu dia mengkhawatirkan putra putrinya.

Dia membangunkan istrinya dengan lembut dan kasih sayang, “Istriku bangunlah, shalat subuh. Aku akan pergi ke masjid. Shalatlah.”

Dia membalas, “ke mana mereka pergi?”

Dia berkata, “berdoalah untukku setelah shalat aku akan melaksanakan tugasku.”

Istrinya menjawab dengan suara sedih, “semoga Allah memberimu taufiq.”

Dia bergegas keluar menuju masjid sementara di benaknya ada banyak macam pikiran. Setelah shalat ia pergi menuju tugasnya yang suci. Sebelum sampai tujuan dia melihat banyak orang berkumpul di sana: yaa Allah bagaimana mereka berkumpul di sini di waktu sepagi ini. Tadinya ku pikir masalahnya lebih sederhana.

Dia berhenti, dan pikirannya tidak karua-karuan, hatinya bertanya-tanya tidak tenang, apakah kamu akan berhasil mengemban misimu?!! Yaa Allah mudahkan.

Sejenak dia berfikir akan kembali pulang, namun karena keadaan yang memaksa akhirnya dia bangkit kembali untuk melanjutkan misinya!

Dia memikirkan nasib anak-anaknya dan masa depan mereka. Dia bertekad meneruskan langkahnya demi mewujudkan tujuannya. Rasa takut senantiasa mencabik relung hatinya, menyayat-nyayat perasaannya.

Setelah melewati waktu-waktu yang sulit setengah mati akhirnya ia sampai di tempat yang ditujunya. Maka hatinya penuh suka cita mendapatkan apa yang dia cari tanpa mengalami gangguan apapun, berkat taufiq dari Allah, maka dengan senyum dia melangkah maju.

Setiba di rumah, bergegas dia masuk rumahnya, setelah meninggalkannya beberapa saat lamanya. Dia mendekap anak-anaknya, menciumi mereka dan memeluk istrinya dengan erat penuh haru sementara sang istri mengucapkan selamat atas keberhasilan dan keselamatannya, dan sang istri kemudian mengambil seikat roti dari tangan suaminya!

Benar, itulah operasi mencari mati syahid yang sesungguhnya, begitulah rezim jahat basyar asad menyebabkan kehidupan kita berubah menjadi begini, celaka dan laknat atasnya dan atas orang-orang yang membantunya. Semoga kemenangan muslim suria segera tiba. Walhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Sang ayah tersebut mengingatkan kita kepada geng-geng basyar assad yang membombardir tempat pembuatan roti bagi rakyat dan negeri Halfaya yang menyebabkan gugurnya 200 syahid dalam sekejab, yang mereka itu adalah warga sipil yang sedang antri  untuk mendapatkan roti bagi anak-anak dan keluarga mereka!

Saudaraku dimanapun anda berada, bantulah bangsa suria dengan doa dan uluran tangan untuk kehidupan mereka dan perjuangan mereka. Bersyukurlah atas kenikmatan yang Allah berikan kepada anda sekalian, bayangkan jika anda yang mengalaminya, apakah anda senang diacuhkan?

sumber: www.binamasyarakat.com

Categories: Uncategorized | Tinggalkan komentar

Tentara pun Bersujud

Erupsi Merapi pada November 2010 yang lalu, menyisakan banyak kisah, kenangan, dan hikmah, yang serpihannya masih berserakan hingga kini.

Dimana markas Buna, juga terkena dampak parahnya. Tumpukan debu pasir dimana-mana. Menutupi jalan, menghancurkan pohon dan perkebunan, memporakporandakan infrastruktur dan jaringan listrik yang dilaluinya. Terbayang, bagaimana mencekamnya malam saat Merapi dalam puncak erupsi. Semalaman Buna terjaga, tanpa bisa berbuat apa-apa, selain memandang nanar pada pekatnya malam, diiringi bunyi gemeretak pohon yang patah dan tumbang. Listrik padam, hujan deras sepanjang malam, seakan kompak menggedor-gedor hati yang masih punya iman: ini mungkin azab dan peringatan. 

Bagi insan beriman, dibalik setiap musibah, selalu terselip ceceran hikmah. Kisah ini, mungkin salah satunya …..

“Beberapa hari ini, musholla peduli bencana Merapi di sebelah utara Stadion Maguwoharjo kedatangan jama’ah yang istimewa. Mereka adalah para tentara, prajurit-prajurit bangsa yang siap siaga mengerahkan tenaganya untuk membantu para pengungsi yang tengah dirundung duka akibat musibah erupsi Merapi. Kehilangan rumah, kehilangan harta, kehilangan sanak saudara, kehilangan usaha, kehilangan ternak, bahkan kehilangan cita-cita… Inilah mendung yang menggelayuti alam pikiran banyak pengungsi.

“Saya mau pulang kemana?”“Saya mau kerja apa?”. “Saya mau makan apa?”“Anak saya bagaimana?”. Itulah sebagian tanda tanya besar yang merasuk dalam hati mereka, mengusik pikiran dan terkadang harus memecahkan tangisan dan lelehan air mata… Hanya Allah tempat kami meminta pertolongan dari segala keburukan dan kesusahan yang terpampang di depan mata…  Oleh sebab itu wajarlah apabila banyak sekali pihak yang menangkap kesedihan mereka dan mewujudkannya dalam berbagai bentuk kepedulian dan bantuan. Dan para tentara itu, saya rasa juga memiliki empati yang dalam terhadap penderitaan yang sedang dialami oleh saudara-saudara mereka. Tidak tanggung-tanggung, Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) hari ini datang ke Maguwo meninjau kinerja anak buahnya, dalam menjalankan tugas-tugas mereka dalam program rehabilitasi dan recovery pasca bencana ini. Sesuatu yang layak untuk dihargai dan mendapatkan perhatian dari anak-anak negeri.

Tatkala waktu sholat Zhuhur tiba, mereka pun berdatangan menghadiri sholat jama’ah dengan seragam mereka yang khas, baju loreng dan sepatu tentara yang kemudian mereka lepas di depan musholla. Mereka ganti sepatu itu dengan sandal jepit yang disediakan di sana -yang bahkan kanan dan kirinya tidak serasi-, melangkah ke tempat wudhu dan bersuci untuk menghadap Rabb langit dan bumi, menunaikan kewajiban sholat 5 waktu, sesuatu yang lebih mereka cintai daripada jabatan yang mereka miliki. Tak lama kemudian, mereka telah larut dalam ibadah agung yang mencerminkan keimanan seorang mukmin di hadapan Rabbnya. Sebuah ibadah -yang kalau dikerjakan dengan sepenuh hati- tentu akan menahan diri pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar…

Selepas sholat dan berdzikir, mereka pun beranjak pergi meninggalkan musholla ini. Namun, di tengah langkah mereka datanglah sosok da’i sederhana yang menawarkan buletin dakwah kepada mereka. Bukan itu saja yang ditawarkannya, akan tetapi buku ushul tsalatsah (tiga landasan utama), hadits arba’in, panduan dzikir dan doa, bahkan tak lupa beberapa butir korma dan air minum pun ditawarkan olehnya. Sungguh, pemandangan yang menyejukkan sekaligus mencerminkan kejernihan sikap seorang da’i. Bukan hanya pengungsi atau korban erupsi merapi yang butuh dakwah, bahkan bapak-bapak tentara ini pun semestinya diperhatikan. Jangan sia-siakan kesempatan ini… “Sungguh, apabila Allah menunjuki seorang saja dengan perantara dirimu, itu jauh lebih baik daripada onta-onta merah.”

Melalui kepedulian semacam inilah, disertai kesadaran yang tertancap kuat di dalam hati, kesabaran dalam menghadapi kesulitan, keinginan yang kuat untuk membantu sesama, segala beban berat dan penderitaan para pengungsi dan korban erupsi -dengan izin Allah- akan sedikit demi sedikit terkurangi. Apalagi mereka adalah saudara kita, yang bersujud kepada Rabb yang sama, mengikuti Nabi yang sama, dan memegang teguh agama yang sama. Walaupun dalam beberapa perkara mereka tergelincir -itupun karena ketidakpaahaman mereka-, namun mereka adalah saudara kita, yang barangkali hati mereka jauh lebih bersih daripada hati kita, mereka lebih sabar dan ikhlas daripada kita, bahkan mungkin lebih banyak perjuangan dan pengorbanannya untuk membela agama…

Oleh sebab itulah, kepedulian kita kepada mereka merupakan konsekuensi dari perasaan cinta karena Allah (baca: aqidah) yang tertanam dalam hati setiap mukmin. Laa yu’minu ahadukum hatta yuhibba li akihi maa yuhibbu li nafsihi“Tidak sempurna keimanan salah seorang di antara kalian sampai dia menyukai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana yang dia sukai bagi dirinya sendiri.”

Sekarang marilah kita bertanya, sejauh mana bukti kesempurnaan iman itu ada dan tertancap di dalam hati kita? Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa sallam. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.”

Yogyakarta, 8 Muharram 1432 H/ 14 Desember 2010

Sumber: YPIA.OR.ID

Categories: Kisah Indah | Tag: , , | Tinggalkan komentar

Pemandangan yang Indah

Kupandang ….

pemandangan yang indah menawan
Di sana ada pegunungan, sawah, tumbuhan, dan hewan
Terimakasih wahai Tuhanku yang Maha Esa
Engkaulah Maha Pencipta alam semesta
Tidak ada tuhan Melainkan-Mu
Aku sangat bersyukur padamu
Terimakasih ya Allah …

 
Karya: Husna
Kelas II SDITQ Insan Mulia, Kradenan, Papringan, Kaliwungu, Kab. Semarang.
Teriring salam takzim untuk para ustadzah yang penyabar dan penuh perhatian pada kami, murid-muridnya. Husna tak akan pernah lupa pada jasa baik kalian. Hanya pada Allah, Husna mintakan balasan. 
Categories: Pena Husna | Tinggalkan komentar

Hujan-hujan Berpahala

Musim hujan sudah tiba. Hampir tiap hari, langit menumpahkan airnya. Meski basah dimana-mana, seharusnya tak melemahkan semangatmu untuk belajar, berkarya, dan beribadah.

rain-vector-97561

Kata orang yang lemah iman, hujan itu menyusahkan. Namun kata Allah, hujan itu air yang menghidupkan, air yang membawa keberkahan. Coba bayangkan, andai di bumi ini tak ada hujan.  Tanah akan selalu tandus dan gersang. Mata air kering dan menghilang. Udara pun, jadi panas, penuh debu dan kerontang.

Meski pada dasarnya hujan adalah rahmat, tapi kadang karena sebab dan hikmah tertentu, Allah merubahnya jadi musibah dan bencana, banjir bandang misalnya. Makanya, Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan beberapa amalan saat turun hujan, khusus untuk kita, para umatnya. Berikut diantaranya:

1. Saat mendung

Rasulullah bila melihat mendung, beliau beranjak ke depan, ke belakang atau beralih masuk atau keluar, dan berubahlah raut wajah beliau. Bila hujan turun, beliau mulai menenangkan hatinya, lalu mengatakan, ”Aku tidak mengetahui apa ini, seakan-akan inilah yang terjadi (pada Kaum ’Aad) sebagaimana Allah berfirman (yang artinya), ”Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka.” (QS. Al Ahqaf [46] : 24)”

Sebagaimana Nabi, kita juga harus khawatir saat melihat mendung. Kita patut was-was dan berharap, semoga kita tak sedang melihat pertanda adanya azab, berupa gumpalan awan, sebagaimana yang terjadi saat Allah akan mengazab kaum ‘Aad.

2. Dzikir saat turun hujan.

Dalam rangka mensyukuri nikmat Allah, Nabi mengajarkan sebuah doa yang bisa dibaca saat hujan,

اللَّهُمَّ صَيِّباً ناَفِعاً

Allahumma shoyyiban naafi’aa [Ya Allah, turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat].”

3. Panjatkan Doa!

Hujan, adalah salah satu saat terbaik memanjatkan doa pada Allah ta’ala, sebagaimana sabda Rasulullah,

Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan :

[1] Bertemunya dua pasukan, [2] Menjelang shalat dilaksanakan, dan [3] Saat hujan turun.”

Begitu juga dalam hadits lain (dari  Sahl bin Sa’d), nabi mewasiatkan:

Dua do’a yang tidak akan ditolak: [1] do’a ketika adzan dan [2] do’a ketika ketika turunnya hujan. (HR. Al Hakim dan Al Baihaqi)

4. Saat hujan makin lebat.

Pernah ketika hujan semakin lebat, para sahabat meminta pada Nabi supaya berdo’a agar cuaca kembali menjadi cerah. Akhirnya beliau membaca do’a,

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari

 [Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].

5. Mengambil berkah dari air hujan

Pernah saat kehujanan bersama sahabatnya, Rasulullah menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Lalu sahabat bertanya kenapa beliau melakukan hal tersebut. Rasulullah menjawab, “Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan”

Maksudnya,  hujan itu rahmat, yaitu rahmat yang baru saja diciptakan oleh Allah Ta’ala. Oleh karena itu, Nabi bertabaruk (mengambil berkah) dari hujan tersebut.

Allah berfirman, “Dan Kami menurunkan dari langit air yang penuh barokah (banyak manfaatnya).” (QS. Qaaf/50 : 9)

6. Dianjurkan berwudhu dengan air hujan.

Apabila air mengalir di lembah, Nabi  mengatakan, “Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci”. Kemudian kami (para sahabat) bersuci dengannya. (HR. Muslim, Abu Daud, Al Baihaqi, dan Ahmad)

7. Jangan dicela!

Banyak orang lemah iman beranggapan hujan sebagai pengganggu acara dan aktivitas. Padahal, selalu ada malaikat pengawas di samping kita. Dia akan mencatat apapun yang kita ucapkan, tanpa terlewat satu hurufpun.

Seperti sudah kita pahami, bahwa hujan adalah rahmat dan berkah. Seorang muslim, wajib mensyukurinya, bukan justru mencela, menyalahkan, dan mengeluhkannya. Jangan sampai kita kufur nikmat, hanya karena salah ucap.

8. Setelah selesai hujan

Nabi pernah shalat Shubuh bersama sahabat, dimana telah turun hujan pada malamnya. Saat akan pergi, beliau menghadap pada jamaah, lalu mengatakan sebuah kalimat dari Allah ta’ala, yaitu:

“Pada pagi hari, di antara hambaKu ada yang beriman kepadaKu dan ada yang kafir. Siapa yang mengatakan ’Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih’ (Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah), maka dialah yang beriman kepadaku dan kufur terhadap bintang-bintang. Sedangkan yang mengatakan ‘Muthirna binnau kadza wa kadza’ (Kami diberi hujan karena sebab bintang ini dan ini), maka dialah yang kufur kepadaku dan beriman pada bintang-bintang.”

(Disarikan dari rumaysho.com)

Categories: Kabar Bagus | Tinggalkan komentar

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.